Setiap Muslim tentu
mendambakan kehidupan yang berkah dan akhir perjalanan yang husnul
khatimah. Untuk mencapai hal tersebut, takwa adalah satu-satunya bekal
terbaik yang harus senantiasa kita pupuk dalam hati. Allah SWT secara tegas
mengingatkan kita dalam Al-Qur'an:
"Berbekallah karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.
Bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat." (Q.s.
al-Baqarah: 197).
Menariknya, Allah
SWT yang Maha Pengasih menyediakan waktu-waktu khusus bagi hamba-Nya untuk
mempercepat akselerasi takwa dan mendulang pahala. Salah satu momentum
emas yang sering kali terlewatkan begitu saja adalah sepuluh hari pertama
di bulan Dzulhijjah.
Seberapa agung
sepuluh hari pertama Dzulhijjah ini? Di dalam surah al-Fajr ayat 1-2,
Allah SWT sampai bersumpah: "Demi fajar, dan malam yang
sepuluh.".
Para ulama tafsir
terkemuka seperti Ibnu Abbas, Ibnu Katsir, hingga Wahbah az-Zuhaili sepakat
bahwa yang dimaksud dengan "malam yang sepuluh" tersebut adalah
sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Ketika Allah bersumpah menggunakan
nama makhluk-Nya, itu menandakan bahwa waktu tersebut memiliki keutamaan yang
luar biasa dan manfaat yang sangat besar bagi manusia.
Bahkan, Rasulullah
SAW menegaskan bahwa nilai amal saleh di waktu-waktu ini tidak tertandingi oleh
waktu lainnya, termasuk oleh ibadah jihad sekalipun, kecuali bagi syuhada yang
mengorbankan seluruh jiwa dan hartanya di jalan Allah.
3 Amal Utama Pendulang Pahala dan Ampunan
Mengingat betapa
besarnya keutamaan hari-hari yang sedang kita jalani saat ini, setidaknya ada
tiga amalan utama yang patut kita prioritaskan:
1. Memperbanyak
Zikir (Tahlil, Takbir, dan Tahmid)
Allah SWT berfirman
agar kita menyebut nama-Nya pada "hari-hari yang telah ditentukan" (ayyamin
ma'lumat) , yang oleh mayoritas ulama dirujuk pada sepuluh hari
pertama Dzulhijjah.
Rasulullah SAW
bersabda:
"Tidak ada
hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan amal saleh di dalamnya lebih
dicintai oleh-Nya daripada hari yang sepuluh... karenanya perbanyaklah tahlil,
takbir, dan tahmid di dalamnya." (H.r. Ahmad).
2. Memburu
Ampunan Lewat Puasa Arafah
Bagi kita yang menyadari
betapa banyaknya tumpukan dosa dalam keseharian, tanggal 9 Dzulhijjah (Hari
Arafah) adalah momentum emas untuk membersihkan diri. Cukup dengan
berpuasa satu hari, Allah menjanjikan pengampunan dosa yang luar biasa.
Rasulullah SAW
bersabda:
"Barangsiapa
yang menjalankan puasa sunnah di Hari Arafah, maka akan diampuni dosanya
setahun yang lalu dan setahun yang akan datang." (H.r. Ibnu Majah).
3. Mengetuk
Cinta Allah Melalui Ibadah Kurban
Bagi yang memiliki
kelapangan rezeki, ibadah kurban adalah pembuktian takwa yang paling dicintai
Allah pada hari Nahr (Idul Adha). Kurban bukan sekadar ritual menyembelih
hewan, melainkan simbol keikhlasan dan kepedulian sosial.
Di satu sisi,
ketakwaan kita sampai kepada Allah ; di sisi lain, daging kurban yang
dibagikan menjadi jembatan kasih sayang dan mempererat persaudaraan di tengah
masyarakat.
Jangan Sia-Siakan Kesempatan Emas
Tentu saja, pintu
amal di awal Dzulhijjah tidak terbatas pada tiga hal di atas. Segala
bentuk kebaikan, mulai dari sedekah, membaca Al-Qur'an, hingga membantu sesama,
menjadi jauh lebih utama karena kemuliaan waktu terjadinya.
Mari kita
manfaatkan kesempatan berharga ini dengan optimal. Semoga Allah SWT
memberikan kita kekuatan, keistiqomahan, dan berkenan menerima setiap amal
saleh yang kita lakukan dengan penuh keridhaan. Amin ya Rabbal 'Alamin.
[Komdigi]
_______
Sumber Referensi: Herdiansyah, Deden A. (2026). Khutbah
Jumat IKADI DIY Edisi 516: Meraih Keutamaan dan Ampunan di Awal Dzulhijjah. Yogyakarta

0 Comments