Ticker

6/recent/ticker-posts

Mengetuk Pintu Ampunan di Sepuluh Hari Pertama Dzulhijjah


Setiap Muslim tentu mendambakan kehidupan yang berkah dan akhir perjalanan yang husnul khatimah. Untuk mencapai hal tersebut, takwa adalah satu-satunya bekal terbaik yang harus senantiasa kita pupuk dalam hati. Allah SWT secara tegas mengingatkan kita dalam Al-Qur'an:

"Berbekallah karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat." (Q.s. al-Baqarah: 197).

Menariknya, Allah SWT yang Maha Pengasih menyediakan waktu-waktu khusus bagi hamba-Nya untuk mempercepat akselerasi takwa dan mendulang pahala. Salah satu momentum emas yang sering kali terlewatkan begitu saja adalah sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah.

Seberapa agung sepuluh hari pertama Dzulhijjah ini? Di dalam surah al-Fajr ayat 1-2, Allah SWT sampai bersumpah: "Demi fajar, dan malam yang sepuluh.".

Para ulama tafsir terkemuka seperti Ibnu Abbas, Ibnu Katsir, hingga Wahbah az-Zuhaili sepakat bahwa yang dimaksud dengan "malam yang sepuluh" tersebut adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Ketika Allah bersumpah menggunakan nama makhluk-Nya, itu menandakan bahwa waktu tersebut memiliki keutamaan yang luar biasa dan manfaat yang sangat besar bagi manusia.

Bahkan, Rasulullah SAW menegaskan bahwa nilai amal saleh di waktu-waktu ini tidak tertandingi oleh waktu lainnya, termasuk oleh ibadah jihad sekalipun, kecuali bagi syuhada yang mengorbankan seluruh jiwa dan hartanya di jalan Allah.

3 Amal Utama Pendulang Pahala dan Ampunan

Mengingat betapa besarnya keutamaan hari-hari yang sedang kita jalani saat ini, setidaknya ada tiga amalan utama yang patut kita prioritaskan:

1. Memperbanyak Zikir (Tahlil, Takbir, dan Tahmid)

Allah SWT berfirman agar kita menyebut nama-Nya pada "hari-hari yang telah ditentukan" (ayyamin ma'lumat) , yang oleh mayoritas ulama dirujuk pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah.

Rasulullah SAW bersabda:

"Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan amal saleh di dalamnya lebih dicintai oleh-Nya daripada hari yang sepuluh... karenanya perbanyaklah tahlil, takbir, dan tahmid di dalamnya." (H.r. Ahmad).

2. Memburu Ampunan Lewat Puasa Arafah

Bagi kita yang menyadari betapa banyaknya tumpukan dosa dalam keseharian, tanggal 9 Dzulhijjah (Hari Arafah) adalah momentum emas untuk membersihkan diri. Cukup dengan berpuasa satu hari, Allah menjanjikan pengampunan dosa yang luar biasa.

Rasulullah SAW bersabda:

"Barangsiapa yang menjalankan puasa sunnah di Hari Arafah, maka akan diampuni dosanya setahun yang lalu dan setahun yang akan datang." (H.r. Ibnu Majah).

3. Mengetuk Cinta Allah Melalui Ibadah Kurban

Bagi yang memiliki kelapangan rezeki, ibadah kurban adalah pembuktian takwa yang paling dicintai Allah pada hari Nahr (Idul Adha). Kurban bukan sekadar ritual menyembelih hewan, melainkan simbol keikhlasan dan kepedulian sosial.

Di satu sisi, ketakwaan kita sampai kepada Allah ; di sisi lain, daging kurban yang dibagikan menjadi jembatan kasih sayang dan mempererat persaudaraan di tengah masyarakat.

Jangan Sia-Siakan Kesempatan Emas

Tentu saja, pintu amal di awal Dzulhijjah tidak terbatas pada tiga hal di atas. Segala bentuk kebaikan, mulai dari sedekah, membaca Al-Qur'an, hingga membantu sesama, menjadi jauh lebih utama karena kemuliaan waktu terjadinya.

Mari kita manfaatkan kesempatan berharga ini dengan optimal. Semoga Allah SWT memberikan kita kekuatan, keistiqomahan, dan berkenan menerima setiap amal saleh yang kita lakukan dengan penuh keridhaan. Amin ya Rabbal 'Alamin. [Komdigi]

_______
Sumber Referensi: Herdiansyah, Deden A. (2026). Khutbah Jumat IKADI DIY Edisi 516: Meraih Keutamaan dan Ampunan di Awal Dzulhijjah. Yogyakarta

Post a Comment

0 Comments