Ticker

6/recent/ticker-posts

Hari Anak Nasional Jadi Momentum Menguatkan Perlindungan Anak dari Berbagai Ancaman

banyumas.pks.id - Hari Anak Nasional tidak hanya menjadi momen untuk merayakan dunia anak, tetapi juga mengingatkan bahwa masih banyak pekerjaan rumah dalam memastikan setiap anak Indonesia tumbuh di lingkungan yang aman. Kasus kekerasan seksual yang terus bermunculan hingga berbagai pengaruh yang dinilai dapat mengganggu tumbuh kembang anak menunjukkan bahwa perlindungan anak masih menjadi tantangan bersama.

Momentum tersebut disoroti Anggota Komisi XIII DPR RI Fraksi PKS Daerah Pemilihan Maluku, Saadiah Uluputty, yang mengajak seluruh elemen masyarakat memperkuat perlindungan anak melalui peran keluarga, sekolah, masyarakat, hingga negara.

Menurut Saadiah, setiap anak berhak tumbuh dalam lingkungan yang aman, sehat, penuh kasih sayang, dan bebas dari kekerasan maupun eksploitasi.

"Kita masih menyaksikan tingginya kasus kekerasan seksual terhadap anak, munculnya berbagai pengaruh negatif, termasuk perkembangan fenomena LGBT, serta penyimpangan sosial lainnya. Kondisi ini menjadi peringatan bagi kita semua bahwa perlindungan anak membutuhkan peran aktif keluarga, masyarakat, lembaga pendidikan, tokoh agama, dan negara," ujarnya, Kamis (23/7/2026).

Ia menilai kekerasan seksual terhadap anak merupakan kejahatan yang harus ditangani secara serius. Berdasarkan berbagai laporan nasional, kasus kekerasan seksual masih menjadi salah satu bentuk pelanggaran hak anak yang paling banyak ditemukan. Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menunjukkan sepanjang 2025 kekerasan seksual masih mendominasi laporan pelanggaran terhadap anak. Sementara Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni PPA) mencatat 13.845 laporan kekerasan terhadap anak hingga pertengahan 2025, dengan kekerasan seksual sebagai salah satu kasus yang paling banyak dilaporkan.

Menurut Saadiah, penanganan persoalan tersebut tidak cukup hanya mengandalkan penegakan hukum. Ia menilai keluarga memiliki peran penting dalam membangun karakter anak melalui pendidikan agama, pembentukan akhlak, serta pendampingan terhadap aktivitas, termasuk penggunaan media digital.

"Orang tua harus hadir, menjadi sahabat sekaligus pelindung bagi anak-anaknya. Pendidikan karakter dan nilai keagamaan harus menjadi fondasi utama agar anak memiliki ketahanan menghadapi berbagai tantangan zaman," katanya.

Selain keluarga, Saadiah juga mendorong pemerintah, aparat penegak hukum, sekolah, pemerintah daerah, serta berbagai lembaga terkait untuk memperkuat kolaborasi dalam mencegah kekerasan terhadap anak. Upaya tersebut, menurutnya, perlu diwujudkan melalui edukasi, pengawasan, pendampingan bagi korban, serta penegakan hukum yang memberi efek jera kepada pelaku.

Bagi Saadiah, perlindungan anak merupakan investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa. Karena itu, Hari Anak Nasional seharusnya tidak berhenti sebagai peringatan tahunan, tetapi menjadi pengingat bahwa setiap anak berhak memperoleh ruang tumbuh yang aman, terlindungi, dan mendukung perkembangan mereka secara optimal.[komdigi]

Sumber: fraksi.pks.id


Post a Comment

0 Comments